fbpx

Inilah Mengapa Bulan Februari Ada 28 Hari!

Inilah Mengapa Bulan Februari Ada 28 Hari!

 

Mengapa bulan Februari ada 28 atau 29 hari saja? Padahal kan di bulan lainnya kalua tidak 30 hari ya 31 hari kan? Ya, pertanyaan seperti ini sering muncul di pikiran kita ketika masih kecil. Kalender kita sehari-hari dikenal juga dengan nama kalender Masehi atau kalender Gregorian. Setiap bulan di kalender Gregorian memiliki setidaknya 30 hari, kecuali bulan Februari. Jika tidak sedang tahun kabisat, bulan tersebut hanya terdiri atas 28 hari. (Kabisat yaitu tahun yang bisa di bagi 4. Contoh: tahun 2020 bisa di bagi 4, jadi bulan Februari pada tahun 2020 ada 29 hari, sedangkan tahun 2021 tidak bisa di bagi 4, jadi bulan Februari pada tahun 2021 hanya 28 hari saja)

Kenapa bulan Februari ada 28 hari?

Bicara tentang jumlah hari yang jatuhnya lebih sedikit di bulan Februari, tentu tidak lengkap jika kita tidak ikut membahas mengenai kalender. Khususnya mengenai sejarah terciptanya kalender itu sendiri, hingga akhirnya sampai pada kalender yang kita gunakan hingga saat ini.

Pada dasarnya, telah dikenal beberapa kalender yang pernah digunakan manusia dalam kehidupan ini. Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar tentang kalender Jawa, kalender Cina, kalender hijriah, hingga kalender masehi seperti yang kita gunakan saat ini. Kesemua kalender itu memiliki perbedaan satu sama lain, baik dalam hal penamaan bulan, penamaan hari, hingga awal permulaan tahun.

 

Bermula dari Kalender Romawi yang Awalnya hanya 10 Bulan

Asal-usul bulan Februari terdiri dari 28 hari berasal dari raja kedua Romawi, Numa Pompilius. Sebelum Pompilius naik takhta menjadi raja, kalender Romawi hanya sepanjang 10 bulan. Jadi di zaman Romawi dulu, awal tahun itu dimulai dari bulan Maret, yang merupakan bulan setelah Februari.

Di masa itu, raja pertama Romawi Romulus dan rakyatnya tidak menganggap periode antara setelah Desember ke sebelum Maret tidak penting. Sebab, periode ini tidak ounya pengaruh signifikan ke masa panen.

Pada awalnya kalender romawi ini hanya memiliki 10 bulan, dan seperti dikatakan sebelumnya, bulan Maret menjadi bulan pertama, sedangkan akhirnya tetap di bulan Desember. Hal ini juga bisa dibuktikan dan ditelaah dari nama-nama bulan di kalender tersebut, yang merupakan angka dalam bahasa latin.

Sebagai contoh, Desember berasal dari kata Decem, yang berarti “Sepuluh”; November berasal dari kata Nona, yang berarti “Sembilan”; Oktober berasal dari kata Okta, yang berarti “Delapan”; September berasal dari kata Septa, yang berarti “tujuh”; dan seterusnya.

Secara lengkapnya, bulan-bulan itu terdiri dari Martius (31 hari), Aprilis (30 hari), Maius (31 hari), Junius (30 hari), Quintilis (31 hari), Sextilis (30 hari), September (30 hari), October (31 hari), November (30 hari), dan December (30 hari).

Tapi, seiring berjalannya waktu, disadari bahwa dengan hitungan tersebut jumlah hari dalam satu tahun hanyalah 304 hari. Ini tidak bisa sesuai dengan perubahan musim.

 

Baca Juga: Berbagai Macam Jenis Virus Komputer yang Pernah Ada!

 

Mengisi Kekosongan Kalender Sesuai Dengan Perubahan Musim

Pada tahun 700SM, ketika Numa Pompilius naik tahta, ia mencoba membuat kalender yang lebih akurat dengan siklus lunar. Kalender berisi 355 hari tersebut lalu butuh 2 bulan baru untuk mengisi kekosongan di penanggalan. Raja Numa Pompilius menambahkan jumlah bulan yang awalnya hanya ada 10 menjadi 12. Karena itu, Raja Numa Pompilius lalu menambah Januari dan Februari ke penanggalan baru.

Ini dilakukan demi menyesuaikan dengan perubahan musim. Ditambahkanlah dengan bulan Januari dan Februari, dimana bulan Februari adalah bulan terakhir dalam setahun. Berkat penambahan dua bulan ini, jumlah hari dalam satu tahun pun menjadi 354 atau 355 hari. Dengan hitungan hari sebagai berikut:

Martius (31 hari); Aprilis (29 hari); Maius (31 hari); Junius (29 hari); Quintilis (31 hari); Sextilis (29 hari); September (29 hari); October (31 hari); November (29 hari); December (29 hari); Ianuarius (29 hari); dan Februarius (28 hari).

 

Inilah Kenapa Bulan Februari Cuma 28 Hari

Tidak hanya sampai di perhitungan di atas, penanggalan kalender pun mengalami perubahan seiring dengan perkembangan jaman. Orang Romawi kuno saat itu percaya angka genap tidak membawa keberuntungan. Karena itu, mereka membuat satu bulan terdiri dari 29 hari dan 31 hari. Tetapi, untuk mencapai 355 hari, satu bulan harus terdiri dari jumlah hari genap. Dari situ, Februari di pilih sebagai bulan dengan jumlah hari genap sebanyak 28 hari.

Di kutip dari Encyclopedia Britannica, Februari di pilih sebagai bulan dengan jumlah angka genap karena bangsa Romawi melakukan ritual penghormatan pada leluhur dan penyucian sekitar bulan tersebut. Dalam dialek suku Sabine kuno, februare berarti “menyucikan“.

Setelah beberapa tahun memggunakan kalender Romawi versi Raja Numa Pompilius, musim yang berlalu mulai tidak sinkron dengan bulan. Agar berjalan selaras lagi, orang Romawi menggunakan bulan berisi 27 hari jika di butuhkan.

Era pun berganti. Pun demikian dengan jumlah hari di kalender. Julius Caesar menggenapi 1 tahun menjadi 365 hari dan setiap 4 tahun sekali berumur 366 hari atau di sebut tahun kabisat.

Pada awalnya, Julius Caesar menetapkan bulan Februari ada 29 hari, dan pada tahun kabisat menjadi 30 hari. Setelah masa kepemimpinannya berakhir, dan di gantikan oleh Kaisar Agustus, lagi-lagi terjadi perubahan pada kalender. Kaisar Agustus mengubah bulan Sextilis menjadi Augustus (Agustus) untuk mengabadikan namanya. Dan jika pada kalender sebelumnya bulan ini hanya berjumlah 30 hari, kali ini di tambah 1 hari menjadi 31 hari.

 

Kesimpulan

Namun, karena masih tidak konsisten, sistem penanggalan ini masih memiliki banyak kekurangan. Untuk itu, Julius Caesar pada tahun 45 SM meminta ahli untuk membuat kalender penanggalan matahari seperti yang pernah di gunakan bangsa Mesir.

Kalender Julian tersebut kelak menambah sekitar 10 hari setahun. Karena itu, setiap bulan terdiri dari 30 atau 31 hari, kecuali Februari. Untuk melengkapi jumlah hari yang sebanyak 365.25 hari setahun, satu hari di tambah ke Februari per empat hari. Tahun tersebut kelak di namakan tahun kabisat. Nah, itulah kenapa Februari ada 28 hari.

Seiring berjalannya waktu, kalender Romawi ini lagi-lagi menunjukkan adanya kesalahan. Alhasil, Paus Gregorius XIII selaku pimpinan gereja Katolik di Roma (1582) pun melakukan koreksi dan mengeluarkan beberapa keputusan yang salah satunya adalah penetapan 1 Januari sebagai awal tahun baru. Bukan lagi Maret seperti sebelum-sebelumnya. Ini bertahan hingga saat ini, dengan kalender Masehi telah di terima oleh seluruh dunia.

 

Itulah sedikit informasi dari admin. Semoga dapat membantu dan bermanfaat bagi kita semua yaa.

Jangan lupa juga untuk mampir ke Website Resmi PT Comtelindo untuk mendapatkan informasi menarik tentang teknologi lainnya yaa

Sumber: detik.com, kelaspintar.id